Senin, 06 Januari 2020

Demokrasi Ditusuk, Hak Berbicara Dimatikan

Rentetan pertisitiwa sejarah sejak zaman penjajahan kolonial hingga penjajahan ekonomi, permasalahan dari monarki, komunisme, otoriter hingga demokrasi terus bermunculan. Sebuah cerita reformasi bersejarah yang sebenarnya ingin Revolusi, pada saat itu menjatuhkan sebuah rezim otoriter yang terbawa arus Bank Dunia serta KKN yang semakin membara di Negeri ini. Mereka yang berbicara pada era <98 tentang negara tidak semudah sekarang, siapa pun yang mengkritik pemerintahan akan tinggal nama begitu yang dikisahkan oleh pejuang pergerakan pada masa 66 dan 98.
Pergerakan muncul kembali 2 dekade setelah perisitiwa reformasi, dan benar-benar kembali menjadi pergerakan mahasiswa yang besar dan merenggut nyawa beberapa orang kawan, salah satunya saudara M. Yusuf Kardawi dari Univeritas Halu Oleo yang tertembak dalam pergerakan. Muncul pertanyaan disisi Mahasiswa pada saat itu apakah era <98 akan kembali lagi, apakah ini bentuk pembungkaman dari pemerintah? tidak ada yang tahu, bahkan saudara kami yang meninggal karena tertembak masih belum diketahui peluru dari siapa yang menarik pelatuk senjata ditangannya. Andai Peluru itu dapat berbicara.
Ntah kapan muncul himbauan dari seorang menteri untuk melarang civitas akademika turun ke jalan dan terdapat sanksi untuk Perguruan Tinggi. Terkejut dengan hal ini karena suara ini keluar dari seorang menteri yang merangkap menjadi Satpam Moralitas Bangsa, pelarangan ini mengekang hak berbicara yang telah diatur didalam UUD 1945 pasal 28 E. Alhasil, pergerakan mahasiswa semakin memanas dan mengundang para civitas untuk bergabung dalam pergerakan. Bahkan duduk bersama untuk mengatur pergerakan selanjutnya dan hasil dari itu membuat sebuah aksi damai yang berujung pembubaran dari pihak aparat.
Tujuan kami berkumpul disana ialah memberikan pemahaman kepada masyarakat sebagai bentuk implementasi dari UUD 1945 yaitu "Mencerdaskan kehidupan bangsa", maka dengan pembubaran itu  kami mengambil kesimpulan bahwa bangsa ini dilarang untuk cerdas. Padahal acara itu diramaikan oleh para Dosen, Pengamen dan Mahasiswa yang diadakan langsung di tengah ramainya masyarakat. Apalah Daya jika penguasa sudah mengatakan "TIDAK" maka itulah keputusan, dan bagi yang melawan akan dipaksa untuk mengatakan "TIDAK" pula. Keesokan harinya tepat 30 S DPR, kami bergerak dengan jumlah mahasiswa yang lebih banyak, kami merasa lebih kuat dengan cara teriak daripada yang mengedukasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar